Perkembangan dunia bisnis menuntut pembaruan strategi setiap elemen penting dalam bisnis; termasuk penyusunan strategi konten komunikasi brand. Dalam menyusun strategi konten, setiap pegiat bisnis mengamini aturan dasar dalam menyusun dan menyampaikan konten brand kepada target audiens: the right message, the right people, the right time - yang kini mesti diimbuhi dengan the right channel di masa revolusi teknologi hari ini.


Konten memegang peranan penting dalam proses komunikasi bisnis dan brand. Target pelanggan akan mampu memahami apa produk dan/atau layanan sebuah bisnis melalui penyusunan dan penyampaian konten yang apik dan terstruktur. Meski begitu, pengalaman kami dalam mendampingi klien membuktikan bahwa tidak semua pegiat bisnis (baik business owner, business runner hingga divisi komunikasi) mengerti apa yang hendak mereka sampaikan kepada target pelanggan. Kebanyakan berfokus pada penyelenggaraan aktivitas komunikasi tanpa memprioritaskan konten yang disajikan.


Mari tarik kembali dari awal. Percaya atau tidak, sebagian besar pegiat bisnis Indonesia belum sepenuhnya memahami arti dari ‘konten’. Selama ini konten selalu dipahami dengan aktivitas tulis menulis, bahasa, teks dan kata; padahal jika kita menilik definisi ‘konten’, cakupannya sangat luas karena konten itu sendiri merupakan isi (content) dari sebuah media produksi -yang dalam konteks kali ini adalah media komunikasi bisnis-. Jadi, sebuah konten bisnis mencakup segala struktur dan desain informasi yang disediakan.


Tulisan ini lebih berfokus pada konteks penulisan sebagai bagian dari konten bisnis; mengenal commercial writing dan anatominya, dan tips menulis commercial writing yang tepat sebagai langkah pembangunan brand Anda. Bagian konten - yang berupa visual - telah kami bahas sebelumnya dan dapat Anda simak di sini.


Apa Itu Commercial Writing?

Konsep commercial writing merujuk pada segala aktivitas menulis yang ditujukan untuk mengomunikasikan produk dan layanan sebuah bisnis. Dengan kata lain, commercial writing is aimed for business communication. Berbeda dengan creative writing yang cakupan konsepnya lebih luas; hingga meliputi penulisan sastra, cerita dan lainnya.


Elemen penting yang membedakan adalah konten commercial writing lebih bersifat: autentik dan relevan. Autentik artinya produk/layanan bisnis merupakan hal yang nyata bagi pelanggan. Hal ini disampaikan melalui pengalaman yang akan dirasakan pelanggan. Tapi autentik saja tidak cukup. Mengomunikasikan produk/layanan bisnis juga harus relevan, artinya sesuai dengan keinginan, kebutuhan, bahkan budaya target pelanggan.


Tips Menyusun Commercial Writing


1. Content Quality not Content Quantity

Konten yang kaya bukan terletak pada kuantitas kata. Konteks kaya adalah tentang kualitas informasi yang dikomunikasikan. Strategi konten sangat berperan sebagai payung dalam information condensity sehingga seluruh informasi tidak lantas ditampilkan dalam satu konten media komunikasi. Maka, Anda perlu mengenali anatomi konten masing-masing media komunikasi yang akan digunakan. Misalnya, anatomi konten pada poster dan brosur tentu berbeda; dan akan mempengaruhi penulisan informasi yang akan disajikan.


Formula penulisan commercial content bermuara pada satu rumus yaitu K.I.S.S (Keep It Simple and Short). Target pelanggan Anda merupakan subjek aktif yang juga dapat memahami konten yang ditulis secara pas sesuai dengan kebutuhan dan kebiasaan masing-masing.


2. Structure Content Findability

Saat ini, menulis konten tidak bisa menafikan kebutuhan findability; terutama pada konten digital. Struktur konten bisnis yang ditulis kini wajib memperhatikan dan memperhitungkan penggunaan kata, diksi dan bahasa yang familiar namun juga tetap bermanfaat bagi target pelanggan. Ada banyak piranti lunak yang dapat Anda gunakan sebagai alat bantu menemukan diksi atau bahasa apa yang dapat digunakan dan sesuai dengan target audiens Anda.


3. Technical Things That Matter

Target audiens setiap komunikasi memang berbeda; dengan karakter dan gaya komunikasinya. Menulis commercial content memang tidak selalu menggunakan Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) yang terstruktur dan baku; namun tidak ada salahnya untuk tetap menjadikan EBI sebagai pedoman penggunaan teknis lain seperti spasi, pemenggalan kata, tanda baca dan lainnya.


Pada akhirnya, menulis konten yang menarik saja (ternyata) tidak cukup. Menulis commercial content yang valuable, relevant dan qualified akan jauh lebih efektif dalam mendukung aktivitas komunikasi bisnis Anda.