Di dalam kalender bisnis kita dapat menemukan berbagai momentum setiap tahunnya. Momentum yang dimaksud adalah pergerakan permintaan yang besar dan masif pada pasar dalam suatu rentang waktu tertentu. Momentum juga merupakan kesempatan yang ditunggu-tunggu oleh pelaku bisnis untuk meningkatkan penjualan dan pendapatan. Memang, tidak semua bisnis memiliki momentum yang sama. Walau demikian momentum demi momentum ini memiliki dampak yang luas dan menyeluruh serta berhubungan dengan banyak lini bisnis.


Bisnis dan momentum adalah dua hal yang saling akrab. Keduanya menunjukkan bagaimana mutualisme bisnis dan konsumen terbangun erat. Bagi bisnis, momentum merupakan kebutuhan pokok sebab momentum menjadi sasaran untuk menjaga keseimbangan dan keberlanjutan produksi, permintaan, penjualan dan tentu juga laba. Di samping organic momentum yang berlaku secara umum, bisnis-bisnis juga mengkreasikan momentum sendiri (created momentum).


Salah satu momentum bisnis yang organic dan mungkin paling besar di Indonesia terjadi pada rangkaian Ramadan dan Idul Fitri setiap tahunnya. Hampir semua lini bisnis – mulai dari bisnis skala kecil hingga multinasional – memanfaatkan momentum ini secara optimal melalui berbagai cara dan strategi. Meskipun Ramadan dan Idul Fitri adalah perayaan besar umat Islam, tetapi dalam konteks bisnis, momen ini dilihat sebagai peluang karena diikuti oleh pemenuhan kebutuhan yang meningkat secara masif dari beragam penganut agama. Berbagai dinamika bisnis dan ekonomi pun terjadi, seperti adu strategi, promosi, kreasi produk dan layanan, dinamika harga dan lain sebagainya.


Lalu bagaimana brand merespon momentum bisnis ini? Bagaimana brand berperan dalam menghadapi momentum-momentum tersebut? Pada dasarnya, brand memiliki peran yang signifikan yang  justru lebih dibutuhkan ketika menghadapi momentum-momentum, baik yang organic maupun created. Berikut ini adalah beberapa cara pandang brand merespon momentum bisnis.


1. Brand untuk meningkatkan daya saing.
Mengamati dinamika momentum bisnis, dapat dibayangkan bahwa pada rentang waktu tertentu terjadi peningkatan permintaan yang tinggi. Perilaku konsumen juga mengalami perubahan, terutama dalam hal buying decision yang berlangsung lebih singkat. Namun konsumen hari ini semakin kritis dalam menentukan pilihan. Sementara penawaran juga meningkat, baik dari existing business maupun dari usaha-usaha musiman. Tentu persaingan menjadi tantangan yang tidak dapat dihindari. Mendistribusikan produk dan layanan menjadi top of mind konsumen agar menjatuhkan pilihannya kepada produk dan layanan yang sedang ditawarkan adalah goal yang hendak dicapai.


Dalam hal ini, brand dapat dilihat sebagai identitas dan promise. Konsumen cenderung mengutamakan produk-produk yang telah dikenali. Terlebih jika pernah mendapatkan pengalaman yang memuaskan maka akan menjadi nilai tambah dalam menentukan keputusan pembelian. Oleh karenanya, memenangkan momentum bisnis membutuhkan persiapan matang yang dimulai sejak jauh-jauh hari. Salah satunya dengan mempersiapkan identitas bisnis yang mudah dikenali dan memorable serta memberikan buying experience yang memuaskan secara kontinu. Dengan begitu, brand menjamin basis konsumen awal. Strategi ini pun sangat baik untuk menjaga loyalitas existing customers.


bersambung ke bagian 2...