Di basic|ludo kita mengenal dan menghidupi istilah #RebrandingBrand. Memaknai kembali apa yang sebenarnya disebut sebuah brand dan menjadikannya spirit untuk karya brand building yang kami kerjakan. Kami bergeser dari sebuah pemahaman tentang membangun brand seperti menyiapkan nama brand, logo, tagline, dan ciri visual. Menjadi sebuah pemahaman bahwa membangun brand lebih dari sekadar rangkaian kegiatan yang disebut generic brand tersebut.


Brand adalah sebuah proses menghayati brand story dari sebuah bisnis. Menjadikan brand itu hidup dan berinteraksi dengan market dan customers-nya, juga memberi warna untuk ekosistem bisnis sekitarnya. Inilah yang disebut strategic brand.


Tidaklah cukup bagi seorang brand manager untuk hanya memiliki generic brand. Brand perlu menjadi distinctive. Artinya, punya keunikan value yang ditawarkan, sehingga tidak hanya terpaku pada keunggulan produk. Seorang Brand Manager bertanggung jawab untuk mengembangkan brand-nya. Menjadi punya pengaruh dan penyebaran value yang lebih luas bagi target market dan customers.


Atau dengan kata lain membubuhkan berbagai brand added value yang mendorong sebuah brand untuk dapat standout in the market dan di antara para competitors. Ada banyak faktor yang dibutuhkan oleh sebuah strategic brand: target audience knowledge, strong unique value proposition, passion is observable, out-of-the-box thinking, consistency, the brand’s objective comes first, and providing value & great exposure.


Target Audience Knowledge
Audience sekarang adalah audience kritis yang bisa menentukan sendiri brand mana yang sesuai dengan karakter mereka. Daya kritis dan kebiasaan dibanding dengan brand lain juga meningkat. Dengan mengetahui karakter dan preferensi audience yang dinamis, kita lebih cepat menentukan genuine story dari strategic brand yang sedang kita susun.


Strong Unique Value Proposition

Bisa membedakan mana brand yang sincere dan mana yang fake. Tidak hanya produk yang sekarang menjadi tujuan para customers, melainkan value dan konsistensi karakter yang diusung oleh brand itu.


Passion is Observable
Setiap brand pasti punya main story dan passion tentang bisnis. Passion yang sifatnya genuine berasal dari sebuah brand disampaikan lewat berbagai aktivitas branding dan marketing dengan delivery tools yang bisa diterima dengan tepat sasaran oleh target.


Out-of-the Box Thinking

Sejalan dengan karakter distinctive yang menjadi ciri utama strategic brand, memiliki budaya out-of-the-box thinking dibutuhkan untuk menjaga konsistensi distinction yang sudah dibangun.


Consistency
Proses pembangunan brand dari tahap pengenalan hingga customer loyalty membutuhkan brand delivery yang konsisten. Tidak berarti monoton atau menutup kemungkinan untuk pengembangan kreativitas, tetapi people can always easily notice.


Brand Objective Comes First
Setiap strategic brand yang berhasil pasti human-centered; sebab brand tak ubahnya manusia yang punya kehendak dan tujuan karya dalam hidupnya. Dengan selalu mengutamakan brand objective yang sudah ditetapkan dalam brand blueprint, Brand Manager jadi punya arahan untuk proses turunan dan delivery brand.


Providing Value and Great Exposure
Sebagai turunan dan delivery-nya, membawa value dan kemudahan exposure untuk customers adalah muara perwujudan strategic brand.


Ketika kita membangun brand dan masih berada dalam tahap generic brand, maka perlahan-lahan ketujuh faktor itu perlu diterapkan untuk siap memulai perjalanan brand kamu sebagai strategic brand.


Tidak dalam rangka mendikotomikan atau mempertentangkan generic brand versus strategic brand, tulisan ini hadir untuk mengajak para Brand Manager menengok kembali brand yang sedang dikelolanya. Juga menentukan kapan saatnya generic brand beralih menjadi strategic brand.


Keuntungan menjadi strategic brand adalah brand akan mencapai sustainability dan growth. Berikut keuntungan yang akan didapatkan Brand Manager yang mau segera beralih membangun strategic brand.

  1. Memperhatikan market yang bisa berubah, produk bisa ditiru, dan kompetitor bisa saja lebih murah, strategic brand dengan DNA (distinction, novelty, attribute) memiliki kans yang lebih kuat untuk menjadi market reference dan choice on purpose.
  2. Effectiveness on helping market to solve their problems. Distinction yang dimiliki oleh strategic brand menjawab kebutuhan audiens yang semakin menghendaki brand yang sesuai dengan karakter dan preferensi mereka.
  3. Good marketing doesn't feel like marketing. Sebuah brand yang strategis lebih berbaur dengan target market karena mendengar, mengerti dan menjadi bagian dari kultur dan keseharian target market.
  4. Noise and interruption is not an innovation. Membuat campaign yang menarik dan variatif jangan sampai berakhir menjadi noise. Inovasi harus berupa kreativitas yang semakin mendekatkan brand kepada target sasaran.

Sebagai Brand Manager kita bisa memulai memikirkan kira-kira kapan waktu terbaik untuk mengevaluasi sedang berada di mana brand kita, generic brand stage atau strategic brand stage. Jika sudah cukup lama berada pada fase generic brand dan terasa kompetisi semakin ketat, kini saatnya kita mulai perlahan bergerak menuju strategic brand.