Lahirnya banyak nama baru di pasar kini membuat banyak business doers berlomba-lomba untuk stand out di lautan brand, mencoba untuk tidak hanya mengapung sebentar lalu tenggelam hilang. Hal yang hanya sedikit brand mampu melakukannya; the strategic brand. Brand yang tidak hanya mengapung, tetapi dapat menciptakan daratannya sendiri, menjejak tanah dan menciptakan interaksi intens dengan pasarnya. Which means, those strategic brands are not only telling or selling things, they offer something beyond themselves (re: products). Lantas apa yang brand-brand strategis ini miliki dan lakukan?

Strategic brand, tidak hanya menjalankan brand blueprint, mereka selalu mengambil langkah-langkah panjang dan sustain terutama dalam berstrategi mengomunikasikan brand. Forget about the product, those strategic brands have something else that more powerful. Strategi - yang brand-brand strategis ini lakukan dalam pola konsisten; adalah strategi berbasis perilaku (behavioral strategy). Berangkat dari brand itu sendiri yang menguat karena karakternya, dan bagaimana karakter brand tersebut dapat terasosiasi dengan baik dalam pikiran customers.

Artinya, behavioral strategy always comes from within. Strategic brand memahami bahwa brand sejatinya adalah sebuah kultur yang terpatri dan dapat mempengaruhi perilaku pasar. Kultur yang ditularkan kepada customer sehingga premis “Kata-katanya emang brand A banget, ya!” atau “Kok, iklannya brand A begini sekarang?” bisa muncul.

Why behavioral strategy matters
Brand-brand strategis membawa dampak kuat tidak hanya bagi brand itu sendiri, tapi bagi aktivitas bisnis dari brand tersebut juga. Mencapai hasil sesuai target yang diinginkan bagi brand dan bisnis tidak pernah mudah, butuh strategi marketing yang tepat dimana agenda brand dan bisnis beririsan di sana. Lagi-lagi dengan basis perilaku; behavioral marketing strategy.

Sementara bisnis Doers mendefinisikan konversi hasil seperti apa yang hendak dicapai oleh  brandnya dengan konsep dan konteks yang relevan dan tetap relatable bagi pasar, brand harus terus menjaga perilakunya konsisten. Fungsinya jelas untuk memperkuat core base dari brand tersebut agar memiliki power of analytics & trackings yang bisa digunakan untuk mengukur seberapa signifikan behavioral strategy dalam memperkokoh posisi brand. Jika tujuan utama Doers adalah untuk menekan biaya dan meningkatkan profit, membangun strategi berbasis perilaku tidak bisa ditawar lagi.

Seperti yang kami tulis di awal artikel ini bahwa behavioral strategy yang hendak diterapkan brand harus berangkat dari dalam brand yakni orang-orang di balik brand itu sendiri. Maka terdapat tiga hal dari behavioral strategy yang perlu dicermati oleh Brand Doers. Pertama bisa dilihat dari workplace behavior; tidak hanya membawa brand spirit tetapi juga mampu memberikan perasaan dimana orang-orang merasa adanya belonging antara dirinya dengan tempat dia bekerja, dimana kehadiran dan kontribusi pekerja di tempat kerja adalah sesuatu yang berarti.

Kedua, Doers bisa menemukan top down model yang diterapkan dalam proses dan hirarki kerja. Mewujudkan lingkungan kerja yang bertujuan membangun perilaku brand itu sendiri dari dalam, dan bukan semata-mata untuk memberi dan menyelesaikan tugas. Tapi lebih kepada bagaimana kultur brand juga melekat dalam interaksi kerja.

Ketiga, proses dan progres transformasi menjadi strategic brand yang mengindikasikan pertumbuhan dan bagaimana brand  tersebut membudaya; menjadi bagian dari keseharian masyarakat terlepas apakah mereka menggunakan atau tidak menggunakan produk dengan logo brand yang bersangkutan. Ini adalah manfaat yang dirasakan oleh brand kemudian, buah dari behavioral strategy yang mapan dan sudah pasti sustain karena brand yang menjadi kultur sudah pasti diwariskan kepada generasi yang akan datang.