Sebagian besar brand Doers – marketers – terjebak dalam pertanyaan “how to”, yaitu berkutat dalam penyusunan rencana-rencana promosi, iklan dan berbagai trivia media sosial yang menurutnya akan berdampak pada penguatan brand engagement di lingkungan pelanggan. Keadaannya menjadi semakin menantang ketika rencana-rencana tersebut tidak berangkat dari suatu brand objective dan strategi. Brand message dan narasi kemudian tenggelam dalam sameness, kesulitan membangun distinction hingga pembangunan brand yang hanya berakhir menjadi sebuah gimmick dan popularitas berusia pendek. Apalagi pembangunan brand hanya mengutamakan product consumption, sementara kebutuhan pelanggan lebih luas dari itu.

Menurut Aaker, powerful brands are built inside out, yaitu membangun kekuatan brand dari dalam. Salah satu ejawantahnya adalah kesiapan brand blueprint yang juga merupakan bagian penting dari business starter pack; bersamaan dengan business plan. Kematangan brand blueprint akan menentukan kekuatan brand strategy. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun sebuah brand blueprint.


1. Brand Blueprint adalah sebuah design thinking
Brand prototype berupa rancangan mindset brand yang akan ditanamkan dan dalam benak pelanggan potensial berikut prosesnya merupakan bentuk akhir dari sebuah brand blueprint. Pembentukannya dapat dilakukan salah satunya melalui 7 langkah design thinking seperti yang diramu oleh Ambrose dan Harris yaitu: define, research, ideate, prototype, select, implement dan learn. Ketajaman design thinking juga menentukan kualitas seorang brand Doers.

2. Memetakan sistem kebutuhan pelanggan yang akan dipenuh
Pemenuhan kebutuhan pelanggan tidak selalu berhenti pada tahap product consumption. Customers satisfaction akan tercapai bila sistem kebutuhannya dapat dipenuhi secara optimal oleh brand. Kejelian dan kreativitas brand Doers dalam memetakan dan mengelola sistem kebutuhan ini sangat penting dalam membangun brand proposition yang menentukan daya tarik pelanggan.

3. Membangun brand journey bagi pelanggan
Obyektif dari pembangunan brand adalah membangun asosiasi kuat terhadap bisnis. Untuk mencapai hal ini, pelanggan menempuh sebuah proses dan perjalanan. Pembangunan asosiasi tidak mengenal jalan pintas, melainkan jalan strategis melalui journey yang komprehensif, mudah dan membekali pelanggan dengan pengalaman yang memorable. Sebuah perjalanan yang baik adalah diketahuinya secara pasti arah tuju dan titik berangkat.

4. Memetakan touch points, call to action dan key performance indicators
Kanal dan media komunikasi brand adalah sebagian kendaraan yang digunakan oleh pelanggan untuk berpetualang memenuhi kebutuhannya sekaligus membangun engagement dan asosiasi yang kuat terhadap bisnis. Kendaraan lainnya berupa brand culture, brand people, atmosfer hingga service juga tidak luput dari perhatian pelanggan. Untuk itu, brand butuh membangun directory yang efektif dan mudah dicerna melalui kehadiran berbagai touch points dan rambu-rambu call to action (CTA). Menghadirkan touch points dan CTA perlu didasari oleh key performance indicators agar proses pembangunan brand dapat dimonitor dan dievaluasi demi penguatan kualitas proses tersebut, sebab pembangunan brand merupakan sebuah lifetime process.

5. Memperhitungkan Brand Budget
Persoalan pembiayaan (budgeting) tampaknya menjadi tantangan yang terus-menerus dihadapi oleh brand Doers. Efisiensi pembiayaan tidak melulu persoalan meminimalisir aktivitas brand dan branding, melainkan ditentukan oleh efisiensi brand blueprint secara strategis. Justru dengan menyusun brand blueprint secara komprehensif, pembiayaan dapat ditentukan dan menghindarkan adanya unexpected budget pada proses aktivasinya. Di samping itu, dengan adanya landasan key performance indicators, juga dapat membantu brand Doers untuk melakukan perhitungan terhadap brand return of investment (BROI) secara berkala.