BASIC|LUDO memahami cashless sebagai terminologi yang mewakili perilaku masyarakat. Perilaku yang kami percaya sudah ada bahkan sebelum istilah cashless masif digunakan kini. Bertolak dari kebutuhan akan kemudahan dalam layanan transaksi keuangan, lalu muncul perilaku yang mencari-cari nilai tambah pada layanan yang coba ditawarkan oleh instansi perbankan. Apa yang terjadi hari-hari ini adalah pengembangan siklus perilaku masyarakat, kebutuhan, dan fitur layanan tersebut. Lalu satu lagi yang turut berkembang di sana. Brand dalam misi (meng)adaptasi masyarakat cashless.

Perilaku cashless ini direspon oleh sebuah lakon bisnis finansial sebelum dapat disebut brand kemudian. Dimana bisnis finansial dulu masih menjadi arena instansi perbankan, baik kebijakan maupun terobosan layanan bagi nasabah. Tidak ada persaingan, membuat inovasi-inovasi yang ditawarkan bersifat dua arah. Bernilai guna bagi instansi perbankan maupun pengguna jasa, yakni masyarakat itu sendiri. Perkembangan teknologi, temuan, dan perilaku masyarakat mendorong instansi-instansi ini untuk melihat berbagai kemungkinan yang harus diambil kemudian, untuk mempertahankan eksistensi bisnis.

Cashless Society From Time To Time

Mencoba melihat ke belakang bagaimana masyarakat cashless ini berkembang dari waktu ke waktu, dimulai dari sistem kebijakan moneter. Munculnya instansi terpusat untuk mengatur sistem rupiah kita. Sistem yang lahir juga dari perilaku masyarakat dalam bertransaksi jual-beli. Gagas inovasi yang terus berkembang untuk menghadirkan alat guna memungkinkan kemudahan didapat dalam setiap aktivitas finansial, yaitu teknologi.

Teknologi pertama yang dibuahkan oleh hasil kebijakan bank sentral Indonesia guna mempermudah transaksi dalam jumlah besar adalah giral, atau surat-surat berharga seperti wesel, giro, atau cek bilyet. Ini adalah bentuk transaksi cashless awal, jauh sebelum transfer uang via aplikasi sekarang. Orang-orang sudah berpikir cashless sejak lama, lalu difasilitasi oleh instansi perbankan dengan sistem dan kebijakan.

Setelah itu teknologi yang dikembangkan beralih ke transaksi tanpa tunai menggunakan kartu; kartu kredit dan kartu debit yang juga masih digunakan sampai sekarang seperti Visa atau Mastercard. Dipicu oleh American Expressdengan kartu Dinners Clubnya, lalu dikembangkan menjadi kartu kredit oleh Bank of America. Transaksi berbasis kartu ini dikembangkan lagi kemudian dengan menggunakan jaringan internet untuk bertransaksi mudah, melalui situs bank masing-masing. Internet Banking ini pertama kali dioperasikan oleh Bank Central Asia melalui situs klikbca. Bank yang sama kemudian kembali menjadi pelopor mobile banking yang tidak hanya dapat diakses melalui situs tapi juga aplikasi ponsel, sebelum akhirnya diikuti oleh instansi perbankan lain.

Masifikasi layanan keuangan kemudian membawa kompetisi dalam pasar yang terus bertumbuh. Memainkan pola permainan bertahan sebagai entitas bisnis finansial jelas tidak menjanjikan jaminan sustainability yang dicari para lakon bisnis. Mempersiapkan entitas brand cashless service adalah pilihan yang kemudian diambil untuk bertahan di antara masyarakat cashless. Menurut kami menjadi brand di sini berarti mengandalkan strategi untuk mengalih-perankan entitas bisnis menjadi sebuah brand yang terdefinisikan dengan baik dalam pikiran orang banyak. Pengejawantahannya terlihat dari respon brand terhadap perilaku masyarakat, yaitu fitur layanan yang juga ikut berkembang.

Layanan keuangan tanpa tunai berawal dari giral, yakni transaksi keuangan berbasis surat-surat berharga. Lalu berkembang ke transaksi berbasis kartu, transaksi berbasis daring, dan kini transaksi berbasis aplikasi. Perkembangan fintech ini kemudian tidak lagi menjadi laga kompetisi institusi perbankan saja. Startup fintech menjadi newcomers yang meramaikan kompetisi pasar, yang membuat mengalih-entitaskan bisnis menjadi brand menjadi sebuah urgensi. Karena teknologi finansial ini bagi kami tidak hanya membentuk masyarakat menjadi newer cashless , tapi sekaligus menjadi bahasa pengantar brand untuk memperkuat dirinya di tengah-tengah kompetisi pasar (masyarakat cashless).

Kami melihat kehadiran fintech newcomers ini lalu mendudukkan produk fintech keluaran perbankan sebagai incumbent, yang jelas tidak diam dalam melakukan inovasi, mencoba menjaga sustainability brand-nya sendiri. Kehadiran ‘nama-nama baru’ dengan membawa identitas cashless service platform merespon secara spesifik pada perilaku cashless kini, dengan cepat mengalih-perankan entitas newcomers sebagai bisnis 4.0 menjadi brand. Dimana brand sejatinya memberikan muatan kebaruan dalam produk-produk inovasinya.

Sampai di sini terlihat dua hal yang penting bagi brand untuk mempersiapkan strategi yang tepat agar dapat berada dengan entitas yang tepat di antara masyarakat cashless. Meringkas dari penjabaran diatas, persiapan yang diperlukan oleh brand adalah; pertama, mengenal subyek, kedua, merespon subyek. Percakapan yang mutual antara dua subyeklah yang memungkinkan relasi yang mutual pula terbangun di antara keduanya, antara brand dan masyarakat cashless. Percakapan berikut relasi mutual ini hanya mungkin terjadi jika ada pengenalan dan respon brand kepada people. Hingga pada akhirnya kami di BASIC|LUDO dapat mengambil kesimpulan bahwa sejatinya brand perlu menjadi cashless (secara behavior) sebelum menjadi cashless service brand.