Brand Strategy Expert Nisaul Aulia kami menuliskan tulisan pembuka tahun tentang Brand dan Disrupsi. Memaparkan bagaimana akselerasi teknologi komunikasi menjadi pemicu utama gelombang disrupsi. Peralihan nilai dan perilaku yang sekaligus mempengaruhi pengambilan keputusan jadi penandanya.

Di dalam kepala para konsumen urban dengan daya literasi dan penggunaan teknologi yang tinggi, disrupsi mewujud. Mengubah cara pandang seseorang akan sesuatu, melihat dirinya dengan cara yang berbeda. Konsumen kini paham bahwa merekalah pasar. Diksi kuat yang dipakai oleh Christensen saat ingin mengasosiasikan makna ‘tercerabut’ itu sendiri, merujuk pada aspek dasar sebuah perubahan besar, yakni perubahan mindset. Yang kini, sedang terjadi secara masif membawa kita kepada the new normal.

Berangkat dari sana, Basic|Ludo lalu yakin bahwa cara-cara orang melihat dan mendefinisikan brand pun akan mengalami shifting. Berikutnya tidak lagi dapat dipisahkan dengan batasan-batasan yang jelas brand dari bisnis modelnya. Melihat dan mendefinisikan brand berarti secara tidak langsung mengemukakan bisnis model yang diusung di sana. Batasan-batasan yang dulu seperti memberi spasi antara brand dan aktivitas menjaring profit kini melebur, menjadi brand spirit.

Orang-orang mengenal Tokopedia sama baiknya dengan mereka mengenal Matahari Mall, sekali pun mereka belum tentu pernah berbelanja di salah satu, atau bahkan keduanya. Wawasan datang tidak dari pengalaman pribadi sudah pernah berbelanja, storytelling juga berperan aktif di sana. Lalu apa yang membuat banyak konsumen beralih ke e-commerce?

Strategi brand yang disruptif inilah yang akan mentransisi bisnis model menjadi roh dari brand. Roh yang mengkomunikasikan relevansi, dalam bentuk storytelling, atau mengutip dari thinkwithgoogle, bahwa storytellingsudah beralih menjadi storyselling. Bisnis model e-commerce diterjemahkan dalam bentuk strategi komunikasi yang membawa nilai dan menjawab masalah kebutuhan konsumen, namun tetap menjamin sustainability-nya juga.

Brand is the people. Strategi untuk memperkuat brand di pasar, sama artinya memperkuat orang-orang yang adalah pasar itu sendiri. Sekabur itulah batasan-batasan dalam konteks brand kini. Tidak hanya sebatas men-storyselling-kan bisnis model sebagai brand spirit, tapi benar-benar menjadikannya hidup untuk memperkuat brand, memperkuat cara pandang orang tentang brand.