Ada puluhan aplikasi toko busana wanita online yang diproduksi dan dipasarkan di Indonesia. Semua mengklaim diri sebagai toko terdepan, koleksi terlengkap, harga bersahabat, dan layanan terbaik. Lalu bagaimana membuat aplikasi tokomu dipilih di antara aplikasi toko lainnya?

Branding adalah jawabannya. Ciptakan persepsi dan pertalian emosi dengan produk yang kamu buat. Brand juga membuat orang melihat value dan story dari produk, seperti: kesan, sejarah, karakter, dan kemiripan dengan kondisi sebenarnya.

Di balik branding ada janji dan trust yang dibangun dan terus menerus dihidupi oleh business doers dan jajaran brand management-nya. Janji disampaikan layaknya orang bercerita (story telling) dengan mengangkat aspek emosionalitas seperti: empati, cita-cita, kegelisahan, juga ambisi. Ketika cerita yang ditawarkan produk menyentuh atau sungguh sesuai dengan value yang dipegang konsumen, maka bisnis perlu menjaga trust, yaitu dengan mempertahankan keterhubungan emosional dengan pelanggan.

Apa Saja yang Dikerjakan dalam Branding?

Branding adalah rangkaian langkah mengaktifkan sebuah brand yang sudah direncanakan dan dibangun dengan distinction yang kuat. Sebelum mengetahui apa saja yang dikerjakan dalam branding, maka sejenak kita menilik terlebih dahulu apa itu brand.

First, create the brand along when you build the business.  Brand adalah cerita orisinil bisnis yang kamu bangun berikut produk (platform) yang kamu ciptakan. Brand terdiri atas identitas bisnis, strategi bisnis, product touchpoints, reputasi, visi, dan value produk. Dalam prosesnya, kita perlu melakukan riset pasar dan menegaskan positioning.

Selanjutnya adalah menurunkan dalam rumusan brand brief yang isinya berupa misi, atribut, value proposition, key market, guiding principles, key competitor, and stakeholders. Brand brief merupakan peta bisnis Anda agar pelanggan bisa dengan mudah mengenali dan membedakan produkmu dengan serupa lain di pasar.

Setelah brief brand kamu terpetakan dengan jelas, kini saatnya mewujudkan identitas brand. Identitas brand meliputi brand naming, desain logo and signature, dan tagline. Nama brand harus tepat, menarik, dan endure di setiap masa. Tiga hal yang perlu dipikirkan untuk menciptakan nama brand: nama harus mengungkapkan citra brand, konsisten dengan janji brand, dan berkapasitas untuk selalu berkembang. Kemudian untuk membangun logo, empat hal ini mungkin membantumu: logo perlu memberikan kesan yang baik terhadap bisnismu, logo harus mudah dilihat dan diingat (coba lihat sekilas dan gambarlah sendiri), logo yang baik itu fleksibel (cukup mewakili ketika diterapkan hanya pada satu warna), dan yang paling penting logo harus orisinal. Aspek terakhir dalam identitas brand adalah tagline. Karakteristik yang sebaiknya ada dalam sebuah tagline antara lain: singkat, unik, deskriptif, spesifik, mudah diingat, tidak mengandung konotasi negatif, dan menyiratkan respon emosional.

Praktik berikutnya adalah merawat reputasi brand dan mempertahankan good brand experience. Merawat reputasi ditempuh dengan memahami bahwa marketplace hari ini sangat lentur bergerak, memenuhi janji brand secara konsisten, memberikan produk dan proses yang baik, mempertahankan customer experience yang nyaman dan menarik bagi pelanggan, serta menjaga relevansi positioning di tengah preferensi pasar yang terus berubah. Lalu untuk menumbuhkan good brand experience, perhatikan keempat elemen marketing berikut ini: proposition, people, process, dan platform.

Branding untuk Mobile Apps

Sebagai sebuah produk sekaligus platform yang menjawab beberapa kebutuhan pelanggan, mobile apps seperti aplikasi toko online busana wanita bisa menjawab lebih dari satu kebutuhan mobile customers. Navigasi mudah, product knowledge lengkap, akses cepat, dan hemat waktu untuk proses discovery dan installing (purchasing) decision.

Touchpoints yang ditawarkan memang tidak secara langsung bisa memuaskan semua indera pelanggan, akan tetapi unsur visual, verbal, mobile adventure bisa menjadi touchpoints utama dalam branding mobile apps.

*disarikan dari sumber utama Branding Itu “Dipraktekin” -Tim Wesfix (Grasindo, 2017)