Sesaat sebelum pesawat berangkat, Sinta mampir di sebuah kedai untuk sekadar menyesap kopi. Dia sempat sebentar terpesona mengamati bagaimana ruang kecil itu disulap menjadi seperti sebuah kamar yang nyaman, yang membuat siapapun yang hendak pergi tetap merasakan kehangatan suasana rumah. Tak jauh dari tempat Sinta duduk, ada Bobi. Asik bermain dengan gawainya. Ternyata dia sedang mencoba mobile game baru yang disarankan temannya. Dua hal yang menjadi trigger: Pesawat delay satu setengah jam. Buntu dengan kalimat-kalimat untuk cerita serial terbarunya di aplikasi menulis online. Bobi hanyut dalam halaman demi halaman karena visual experience game adventure ini memanjakan mata, tidak banyak noise, dan grafik yang mendukung pengalaman game pada tiap step nya.


Kedua tokoh dalam ilustrasi di atas larut dalam kenyamanan masing-masing. Kenyamanan yang merupakan salah satu wujud customers journey, sebuah rangkaian interaksi yang dialami pelanggan terhadap sebuah brand. Apa yang dialami Sinta tidak melibatkan mobile journey, tetapi apa yang dialami Bobi adalah salah satu wujud nyata mobile customer journey (MCJ). Ia menjelajah pengalaman interaksi dengan sebuah brand gim, baik secara online maupun offline.

Lalu pertanyaannya, sepenting apakah mobile customer journey untuk dipikirkan oleh para mobile app developer?

Mobile app menjadi hal yang paling dekat dan tidak bisa ditinggalkan orang saat ini, siapapun dan di manapun. Alasan paling tinggi di balik kondisi adalah lebih produktif, menyelesaikan banyak hal dalam kurun waktu relatif singkat, dan tentu saja praktis dan cepat.

Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, di Indonesia saja ada lebih dari 2500 mobile app diciptakan oleh para developer lokal. Kategori mobile app tersebar dalam banyak bidang (keuangan, mengedit rekaman musik, mencari hiburan, bermain game, belanja online, pembayaran pengeluaran bulanan, traveling, dan masih banyak lagi). Mobile apps tersebut diciptakan para developer sebagai solusi atas rumit dan borosnya harga yang harus dibayar ketika semua urusan dilakukan offline.

Selain mendasarkan tujuan dan benefits sebuah mobile app bagi user atau pelanggan, bagaimana interaksi yang terbentuk antara pelanggan dan mobile app itu sendiri perlu diperhatikan. Seperti apakah karakter mobile itu sendiri? Complex but easy and real-time. Rumit secara struktur tetapi memudahkan users memenuhi kebutuhan, dan

Pada praktiknya, masih sering dijumpai mobile app dengan ide brilian dan solutif hanya berhenti di Playstore atau Appstore tanpa ada upaya branding activities yang intensif. Selain itu, banyak mobile apps business doers yang menganggap bahwa sampainya hasil karya di toko aplikasi online adalah stages terakhir dari pemasaran mereka. Persoalan lain yang sering ditemui adalah mapping target kurang dinamis, tidak memahami perubahan kebiasaan mobile customers, dan terlalu mengandalkan template checklist penanggalan dan marketing matrix, sehingga sering kali target yang terjaring bukanlah potential market mobile app.

Karakter mobile customers perlu menjadi titik tolak bagaimana mobile app business doers menyiapkan strateginya secara holistic. Semua itu tentang bagaimana pelanggan menggunakan teknologi dalam konteks hari ini, menemukan keseruan baru, belajar hal baru, mengambil keputusan, mengandalkan, dan menjadi loyal.

Jadi mengapa mobile customer journey penting untuk strategi mobile app? Agar pemenuhan kebutuhan tercapai secara efisien. Solusi yang dibawa mobile app developer sampai pada customers yang terus-menerus membutuhkan langkah cepat, akses mudah, dan cara efisien mengurus berbagai kepentingan hidup masa kini.